jpnn.com - JAKARTA - Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) menyampaikan pentingnya peran seorang pemimpin dalam menciptakan perdamaian berkelanjutan.
Hal tersebut mengemuka dalam Kuliah Kepemimpinan ERIA School of Government kedua yang menghadirkan Presiden Senat Kamboja Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen di Jakarta, Selasa (6/5).
Dalam kuliah tersebut, Hun Sen menceritakan perjalanan Kamboja menuju rekonsiliasi nasional dan bagaimana pendekatan dialog serta penyelesaian politik menjadi kunci bagi stabilitas serta pembangunan jangka panjang negaranya.
“Kebijakan win-win berhasil mewujudkan perdamaian penuh dan menyatukan kembali wilayah Kamboja tahun 1998, semuanya tanpa pertumpahan darah,” kata dia, Selasa (6/5)
Hun Sen juga mengenang masa sulit, termasuk keputusannya pada 1977 untuk menyeberang ke Vietnam.
Alih-alih mencari suaka, Hunsen memilih meminta bantuan Vietnam untuk membebaskan rakyat Kamboja dari kekejaman rezim Pol Pot.
“Tanpa dukungan Vietnam, tak ada negara yang akan berani menggulingkan rezim kejam itu. Sangat penting bagi kami menjaga kebenaran sejarah ini agar tragedi seperti itu tak terulang kembali,” ungkapnya.
Hun Sen juga menyinggung peran penting Indonesia dalam proses perdamaian.